High Consultant sebagai bagian dari Ratama Education & Research (Ratama Konsultan) menyediakan jasa disertasi untuk semua program studi , olah dan analisa data riset atau survei. Pembuatan journal terindeks CP: afrita afritaham@gmail.com wa: 08179239034/087891200950 https://ratamakonsultan.com/ratama-education-research/ atau IRAAConsultant: rita@iraaconsultant.com phone/wa: 082181263315 https://www.iraaconsultant.com/
Senin, 14 Januari 2019
Syarat Program doktor (S3) dan Kepangkatan di Indonesia harus journal internasional bereputasi dan terindex ???
Syarat Program doktor (S3) di Indonesia harus journal internasional bereputasi dan terindex (SCOPUS)
Berdasarkan Surat Edaran DIKTI Mewajibkan Mahasiswa Magister dan Doktor Untuk Publikasi Ilmiah dalam bentuk jurnal inetrnasional bereputasi dan terindex (SCOPUS. Akan tetapi pada kenyataannya, publikasi pada jurnal internasional bereputasi dan terindex (SCOPUS) tidak semudah yang dibayangkan... ada beberapa tahapan yang sebagian besar belum dipahami oleha para calon doktor ini dikarenakan kurangnya informasi ataupun sosialisasi jurnal internasional yang mana atau seperti apa yang bereputasi dan terindex (SCOPUS).
Scopus sebagai pangkalan data pustaka publikasi yang menampilkan ringkasan (abstrak) dan sitiran artikel jurnal akademik memang menjadi salah satu acuan jurnal internasional bereputasi yang disyaratkan Permen-PAN-RB Nomor 17 tahun 2013. Karena setiap jurnal internasional lainnya untuk diakui sebagai jurnal internasional bereputasi harus terindeks pada database internasional yang ada di dalamnya. Selain Scopus yang menggunakann pengukuran Scimago Journal Rank (SJR), ada juga Web of Science yang dikelola oleh perusahaan informasi Thomson Reuters yang memiliki faktor dampak (impact factor) ke sejumlah referensi penulis.
Semenatara itu DIKTI sendiri belum secara gambalgn mensosialisasikan journal apa saja yang bisa dikategorikan diterima sebagai syarat doktor ataupun syarat jabatan lainnya. padahal ini sangat diperlukan oleh penulis agar mereka tidak sia-sia melakukan submit dan publikasi pada suatu jurnal internasional. Dengan kata lain, penulis berharap pemerintah khususnya DIKTI mampu mensosialisasikan atau bahkan memberikan edaran pada setiap Kampus list atau daftar journal yang dianggap bereputasi dan terindex sesuai syarat dari DIKTI.
Seperti penulis kutip pada salah satu koran nasional yang disampaikan oleh Moeflich Hasbullah (2016) tentang syarat jurnal internasional ini :
"Beratnya persyaratan jurnal bereputasi internasional semakin bermasalah dengan munculnya pandangan bahwa kapitalisme pengetahuan menjadi kekuatan bisnis global mengendalikan administrasi ketenagaan akademik di Indonesia. Belakangan, syarat menulis di jurnal terindeks Scopus sabagai syarat menjadi guru besar mulai menuai gugatan. Untuk menjadi profesor di Indonesia mengapa harus "ditentukan" oleh kekuatan akademik global yang berorientasi bisnis seperti Scopus yang berbayar mahal? Bukan dari kemanfaatan ilmu terhadap lingkungan masyarakat sekitar dan kepentingan pembangunan nasional yang diuji para ilmuwan kita sendiri. Ukuran kemanfaatan ilmu tentu harus untuk transformasi masyarakat setempat dan kemajuan bangsa, bukan untuk gagah-gahahan dimuat di jurnal elite bergengsi sambil mayoritas masyarakat akademik kita tidak membacanya karena akses terbatas, soal bahasa, materi terlalu spesifik atau tulisannya yang sangat abstrak-teoretik. Buat apa karya ilmiah eksklusif-bermutu semakin banyak, tapi tidak menyumbangkan transformasi konkret bagi masyarakat dan bangsanya. Sejauh mana artikel atau hasil riset yang dimuat itu telah mendorong riset eksploratif, memengaruhi perkembangan tradisi intelektual, dinamika pemikiran, dan kemajuan ilmu di Indonesia?
Sementara itu penulis mencoba menginfromasikan bahwa untuk mengecek status dari jurnal bereputasi dan terindex dapat dilakukan di beberapa website berikut:
Scimago
web science
website abdc.
Selain itu juga kami bisa membantu Bapk/Ibu/Saudara/i untuk proses journal internasional tersebut
So tunggu apa lagi?? mari budayakan publikasi karya ilmiah dengan tetap mengedepankan kualitas karya ilmiah itu sendiri
Langganan:
Komentar (Atom)